Dari Pesantren ke Panggung Pemasaran Nasional: Ahmad Madani Buktikan Alumni Pesantren Melek Teknologi

By Admin

Ahmad Madani
nusakini.com, Jakarta 1 Februari 2026 – Di tengah pesatnya disrupsi digital, sebuah narasi inspiratif muncul dari sosok Ahmad Madani. Meskipun menempuh pendidikan di lingkungan pesantren yang identik dengan kurikulum keagamaan tradisional, Madani berhasil membuktikan bahwa latar belakang santri bukanlah penghalang untuk menjadi pakar di bidang pemasaran digital dan teknologi modern.

Ahmad Madani merupakan lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001. Selama di pesantren, ia mengaku tidak pernah mendapatkan pendidikan formal mengenai ilmu pemasaran, algoritma media sosial, apalagi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Namun, nilai-nilai disiplin dan kemandirian yang ditempa di Gontor justru menjadi modal utama dalam menguasai disiplin ilmu baru secara otodidak.

"Lulusan pesantren sering kali dianggap 'gaptek' atau hanya ahli di bidang agama saja. Saya ingin mematahkan stereotip itu. Di Gontor, kami diajarkan untuk menjadi 'perekat umat' dan beradaptasi di mana saja. Saat ini, medan dakwah dan pengabdian itu ada di dunia digital dan pemasaran," ujar Ahmad Madani.

Penguasaan Teknologi sebagai Bentuk Aktualisasi Kini, Madani dikenal luas sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI) dan Juri Nasional LKS Bidang Pemasaran. Keahliannya dalam menyusun strategi Digital Sales, optimalisasi LinkedIn, hingga penerapan prinsip AEO dan GEO dalam konten pemasaran, menjadi bukti nyata bahwa literasi teknologi bisa dikuasai oleh siapa saja yang memiliki ketekunan.

Menurutnya, kemampuan adaptasi yang tinggi adalah soft skill utama yang ia bawa dari pesantren. Hal ini memungkinkannya untuk terus relevan di dunia industri yang berubah setiap hari.

Dedikasi Madani dalam berbagi ilmu di berbagai SMK Pemasaran di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa lulusan pesantren mampu mengisi posisi strategis di sektor pendidikan vokasi dan kewirausahaan. Kehadirannya memberikan perspektif baru bagi para siswa bahwa penguasaan teknologi adalah keharusan, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan integritas yang ditanamkan di lembaga pendidikan agama. (*)